Kamis, 31 Oktober 2013
Yang Lalu Biar Berlalu
Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa
dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama
artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur
masa depan yang belum terjadi.
Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak
pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam
'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan
selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus
cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan
tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup
memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya
menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali,
karena ia memang sudah tidak ada.
Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah
payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu!
Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke
tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang
ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda
dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya,
keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda
pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan,
dan sekaligus menakutkan.
Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa
depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat
berharga. Dalam al-Qur'an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum
dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, "Itu
adalah umat yang lalu." Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai
pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman
dan memutar kembali roda sejarah.
Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang
yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.
Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang
meratapi masa lalunya demikian: "Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat
itu dari kuburnya." Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang,
sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, "Mengapa
engkau tidak menarik gerobak?"
"Aku benci khayalan," jawab keledai.
Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan
dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan
kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puingpuing
yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin
bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah
mustahil pada asalnya.
Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melibat dan sedikitpun
menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air
akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala
sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah
kehidupan!
Rabu, 30 Oktober 2013
Mimpi Nikah di Siang Bolong
Berikut ini kisah
lucu seorang sahabat mengenai sejarah ta’arufnya dengan seorang gadis yang
memikat perhatiannya. Nama gadis itu Tanti. Sebuah kisah yang membuat bibir ini
terbuka dan perut terasa sakit saking lucunya.
Sebutlah laki-laki itu Heri, seorang
pembicara di kotanya dan mahasiswa program magister di salah satu kampus
ternama di kota Gudeg. Perawakan tinggi, tampan, dan memiliki kecerdasan di
atas rata-rata. Sebenarnya tidak sedikit gadis berjilbab (semua mahasiswa
kampus tersebut berjilbab) yang menaruh hati padanya. Namun, prinsip Heri yang
ingin menyelesaikan kuliah program magister dahulu baru memikirkan perkawinan
menjadi penghalang besar bagi para gadis untuk mendekatinya. Walaupun Heri
sebenarnya sudah mapan alias siap lahir batin untuk menikah.
Sedikit mengenai Heri, selama ini
dia memeng menjaga pergaulannya, terutama dengan lawan jenis. Dia anak tunggal
dari seorang janda di kota Salatiga. Dia di tinggal wafat ayahnya ketika masih
kecil. Oleh karena itulah, Heri berusaha untuk tidak neko-neko. Dia takut masa
depannya terjanggal oleh pergaulan yang salah. Heri pun tertutup kepada
perempuan. Dia merasa canggung bila harus berada didekat permpuan.
Suatu ketika Heri di undang untuk
mengisi kultum di salah satu masjid di kota tersebut. Kebetulan heri mengambil
jurusan dakwah saat program S1-nya. Heri menerima undangan tersebut dengan
senang hati. Tak ada rasa bimbang sedikitpun. Dia merasa sangat bahagia
(walaupun sedikit mengharap honor). Ia bahkan sama sekali tidak membaca surat
permohonan tersebut.
Dalam bayangan Heri, dia akan
mengisi kultum untuk para pemuda, seperti yang dikatakan oleh pengantar surat
tersebut.
“Assalamu’alaikum. Mas Heri, ya?”
“Wa’alaikumsalam. Iya, saya
sendiri.”
“Ini, mas, ada surat permohonan menjadi
pemateri kultum.”
“Oh,
dalam rangka apa, ya?”
“Nganu, mas...eh... kegiatan para
pemuda di masjid Darul Ulum.”
“Oh,iya,iya. Insya Allah.”
“Terima kasih, mas. Terima kasih,
mas.”
Hari minggu yang cerah, Heri sudah
siap dengan laptop kesayangannya. Motor pun sudah panas, tinggal tancap gas. Ia
layaknya seorang dosen yang akan mengajar (ups, itu memang impiannya).
Walaupun belum sarapan, Heri tetap
bersemangat empat lima seperti pahlawan yang akan maju ke medan perang. Ia
melaju menuju masjid Darul Ulum yang berada di pinggiran kota Salatiga. Lokasi
masjid tersebut tidak terlalu jauh dari kediamannya, mungkin sekitar 15 menit.
Sesampai di sana, beberapa panitia
menyambut kedatangannya. Perasaannya mulai tidak nyaman.ada sedikit rasa malu,
ragu, grogi untuk turun dari motornya. Namun, dia sudah terlanjur masuk
kehalaman masjid. Keringatnya mulai mengalir deras ketika beberapa gadis
berjilbab menghampirinya.
“Assalamu’alaikum, Ustaz.”
“wa...wa...wa’alaikumsalam,”
jawabnya gugup.
Dua gadis bergamis itu bingung namun
tersenyum geli.
“Silahkan masuk, ustaz. Rekan-rekan
sudah menunggu.”
“ohhh...eh... mungkin saya salah
alamat, mbak.”
“Maksud, ustaz?”
“saya mendapat undangan dari pemuda
di Masjid Darul Ulum.”
“Nah, ini kami yang mengundang.”
“oh... kok perempuan semua, ya?”
“Kan perempuan juga pemuda, hihi...”
gadis-gadis itu makin geli melihat tingkah dan kegugupan Heri.
Setelah masuk ruang trangsit, heri
membuka tasnya. Ia membuka surat permohonan yang belumsempat ia buka amplopnya.
Dibacanya dari atas sampai bawah. Keringatnya makin deras bercucuran, padahal
kota Salatiga kota yang dingin.
Kepada Yth:
Ust.
Heri Saputra
di Salatiga
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Salam
sejahtera kami sampaikan semoga kita selalu berada di jalan rahmat Allah swt.
Shalawat
dan salam selalu tercurah kepada nabi muhammad saw, sebagai suri teladan kita
dalam berjuang.
Selanjutnya
kami dari organisasi pemuda Masjid Darul Ulum cq Divisi An-Nisa’ memohon kepada
ustaz berkenan menjadi pemateri pada acara bulanan pada:
Hari : Minggu, 17 Desember 2008
Tempat :
Masjid Darul Ulum salatiga
Materi : Motivasi sukses generasi Islam
Demikian
surat permohonan ini kami buat semoga
kesediaan dan kehadiran ustaz dalam forum kami akan menambah semangat
kami dalam berjuang di jalan Allah. Amin.
Wa’alaikumsalam
Wr. Wb.
Hormat
kami,
Ketua
pemuda Masjid darul Ulum
Divisi
An-Nisa’
Artika
tanti
heri menutup surat
itu dengan wajah merah padam. Baru pertama kali ini heri harus menjadi
pembicara di forum yang semua pesertanya adalah wanita. Rasa grogi yang begitu
besar membuatnya semakin tidak berfokus pada materi yangdia siapkan semalam.
Heri tersenyum-senyum manyun
menyadari keteledorannya. Saking semangatnya untuk berbagi ilmu, jadi keteteran
semuanya.
“Tapi tak apa. Aku akan memberikan
yang terbaik. Ya Allah, lindungilah hamba-Mu,”
doa Heri dalam hati.
Sesaat kemudian, seorang gadis
cantik nan anggun, putih, dan berjilbab pink masuk ruangan transityang terletak
di sebelah barat masjid itu. Heri terpana melihat kecantikannya. Ucapan salam
yang dilontarkan berkali-kali takiterdengar di telinga Heri. Namun Heri
terburu-buru menyadarkan dirinya.
“Astagfirullah... ya Allah...” ia
meminta ampun pada Allah atas perbuatannya melihat gadis tanpa berkedip.
“Kok istigfar, ustaz? Apa salam itu
boleh di jawab dengan istigfar?” tanya gadis yang menjadi ketua acara tersebut.
“Eh...eh.. tidak, eh maksud saya
wa’alaikumsalam. Duuh,maaf, jadi gugup.”
Rasa gugup dan grogi yang di alami
Heri semakin menjadi-jadi. Kakinya bergetar, tubuhnya gemetar, keringat
membasahi kemejanya.
Tanti hanya tersenyum, “Silahkan,
ustaz. Sudah ditunggu pemudi generasi masa depan.”
“Eh...iya, mba. Baik ...”
Dalam hati Heri makin benci pada
dirinya,. Kenapa tidak dari dulu, eh...
kenapa bisa sampai gugup seperti ini.
Aacara berlangsung meriah sekali.
Materi yang disampaikan Heri begitu mengena walaupun ia masih merasa malu.
Ketika perkenalan, Heri ditanya tentang status. Heri menjawab masih single
seraya melirik Tanti. Lirikan itu ditangkap oleh semua peserta dan akhirnya
semua peserta bersorak sorai.
“Wah, sebentar lagi ustaz tidak
single lagi, nih,” kata salah satu hadirin.
“Iya, Mbak Tanti juga bentar lagi
laku,” timpal yang lainnya.
Warna merah terlihat jelas di wajah
putih Heri dan Tanti. Dalam hati heri berkata “Amin”. Sayangnya “Amin” dihati
Heri bisa dilihat oleh beberapa peserta dari tingkah dan ekspresi muka Heri.
“Wah, pasti dalam hati ustaz Heri
berucap amin,” celetuk seseorang.
“aaamiiiiin....., kata yang lain
serempak.
Lalu ketika pembahasan mengenai
jodoh, ustaz muda ini malah makin terpojok dengan sikapnya sendiri. Maklum,
kalau urusan wanita Heri memang tidak jago.
Sejak saat itu Heri mulai
memberanikan diri untuk mengenal dunia hawa. Bukan berarti Heri menjadi
penjahat wanita. Heri mulai berpikir dewasa. Keinginan untuk menikah mulai
dimunculkannya. Mungkin Tanti yang akan jadi pasangannya, seperti doanya
disetiap malam dan setiap shalatnya.
Suatu ketika, saat shalat malam Heri
berdoa kepada Allah tentang isi hatinya yang ingin mengenal Tanti lebih dekat.
“Ya Allah, apabila Tanti memang jodohku, aku mohon padamu, tolong dekatkan
kepadaku, Ya Allah.... agar aku bisa
lebih mengenalnya dan mengagumi anugerah-Mu melalui ciptaan-Mu itu.”
Doanya sederhana, dipanjatkan dengan
niat yang ikhlas dan tulus agar cepat diproses oleh Allah.
Keesokan harinya setelah pulang
kuliah dari Yogya, Heri menyempatkan diri untuk mampir ke masjid tempat pertama
kali ia bertemu Tanti oleh Allah, seperti nabi adam As., yang dipertemukan
dengan Hawa di Jabal Rahmah.
Suasana sore itu sepi. Heri
celingukan kanan kiri.hanya ada seorang pemuda. Heri merasa mengenal pemuda
itu.
“Assalamu’alaikum, mas.”
“Wa’alaikum salam, oh, mas Heri,”
jawab pemuda itu. Ternyata pemuda itu masih mengenalnya.
“Hmmm.... mas, mau tanya. Mba Tanti
ada atau tidak, ya?”
“Wahh, kalau Mba Tanti ya di
kosannya, Mas.”
“Ya, maksud saya kosnya dimana?”
“Oh, sudah pindah, mas. Kalau dulu
di sebelah masjid itu. Kemarin baru saja pindah. Saya tidak tau kemana, mas. ”
“Oh, gitu, ya? Ya udah mas. Terima
kasih.”
“Iya, mas Heri, sama-sama. Tidak
mampir dulu, mas?”
“Mampir di mana? ”
“Ya, di masjid, to mas, bantuin saya
ngepel lantai, hehehe...,” pemuda itu cengengesan.
Heri tersenyum manyun diajak
bercanda pemuda itu. Ia pulang dengan perasaan lesu. Baru bertemu sekali, sudah
mantap untuk menjadikannya pendamping hidup. Sayang, dia pergi entah kemana.
Sampai di rumah ia langsung
melemparkan tubuh dikasur. “Ya Allah ... dimana Tanti, ya Allah?” keluhnya
terhadap tuhan semesta alam tempatnya berlabuh.
Tatapannya tajam tertuju pada
langit-langit di rumah. Lamunannya melayang ke beberapa hari yang lalu, saat
dia melihat tanti untuk pertama kalinya, saat senyum paling indah diberikan
padanya, saat itu... saat itu...
“ternyata ini namanya jatuh cinta,
ya Allah...”
Tok...tok...tok... pintu kamarnya diketuk
seseorang
“Heri, ini ibu. Keluar sebentar, ada
tamu,” terdengar suara ibu dari luar kamarnya.
“Siapa, bu?”
“Ibu belum sempat kenalan. Buruan!”
“Iya, bu. sebentar”
Sesaat kemudian Heri keluar dari
kamar dan menuju ruang tamu. Betapa kagetnya ketika ia melihat yang ada
dihadapannya adalah Tanti yang selama ini dicarinya.
Ya Allah, benar-benar engkau
dekatkan Tanti padaku. Berarti dia jodohku.
Tanti kemudian berlari dan
menghampiri Heri dan berkata “Mas, Heri, maukah engkau menikah denganku?”
“Maksudmu? Tanya Heri bingung.”
“Iya, mas, aku mencintaimu.”
“Kok?” Heri bingung dengan apa yang
di alaminya.
“Iya, mas. Beberapa hari ini saya
mencari mas Heri, lalu saya pindah kos agar bisa dekat dengan mas Heri.”
“Benarkah itu?” Heri girang sekali.
Ia berjingkrak-jingkrak, meloncat-loncat saking bahagianya.
Tok...tok...tok..
Suara kamar diketuk, terdengar sayup-sayup
ditelinga Heri.
“Her...her.. bangun. Kamu ngapain?
Kok teriak-teriak?” ibu memanggil dari luar kamar.
Heri tersentak bangun.
“Astagfirullah... ya Allah, ternyata aku mimpi.”
“Heri..., panggil ibu lagi.”
“Iya, bu. Ini mau shalat.” Jawab
heri sekenanya.
“Mau shalat kok teriak-teriak?”
“Ya, Allah, sampai kebawa mimpi,”
batin Heri. Ia kemudian bangun dan mandi, lalu shalat ashar.
****
Virus cinta semakin bergelayut
dihati Heri. Namun, itu tak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian Heri
sudah melakukan aktivitas seperti biasanya, sedangkan Tanti pergi entah kemana.
“Mungkin dia bukan jodohku sehingga
Allah menjauhkannya dariku.” Itu yang ada dalam benak Heri.
Setelah berhasil mendapat gelar
magisternya, Heri menjadi dosen di perguruan tinggi di salah satu PTAI di kota
Lumpia. Ia juga masih aktif menjadi pembicara di berbagai tempat dan dalam
berbagai forum.
Suatu ketika Heri diundang oleh
panitia kegiatan bulan ramadhan untuk menjadi pembicara dalam dialog menyambut
bulan ramadhan di kota Ungaran, kota yang berada di sebelah Utara kota
Salatiga. Kali ini Heri tak perlu memeriksa surat undangannya, apakah
pesertanya semua perempuan atau laki-laki.
Hari minggu yang cerah, Heri
berpamitan pada ibundanya untuk berangkat ke Ungaran. Ia mengendarai motor
kesayangannya. Setengah jam kemudian Heri tiba di masjid Istiqomah, tempat
acara itu di laksanakan. Seperti biasa, Heri disambut hangat oleh panitia dan
dipersilahkan untuk langsung ke tempat acara, sebuah gedung di sebelah selatan
masjid.
Langkahnya mantap karena hal seperti
ini sudah sering dilakukan. Namun, degup jantungnya berubah menjadi lebih
cepat.setelah melihat pemateri yang akan mendampinginya. Seorang pria setengah
baya yang belum ia kenal dan seorang wanita cantik yang sangat dekat dihatinya,
wanita yang pernah ada dalam doa-doanya setahun silam. Siapa lagi kalau bukan
Tanti, gadis yang dulu pernah menyita perhatiannya. Langkahnya terhenti sebelum
masuk ke ruangan. Di pintu dia terpaku dan terpana melihat wanita itu. Kali ini
matanya tak berkedip lebih lama daripada setahun yang lalu. Wanita itu juga
menatapnya kaget. Beberapa peserta juga melihat adegan saling tatap itu.
Heri kemudian berbalik dan melangkah
keluar gedung. Panitia yang mengantarnya kebingungan dan bertanya, ”Ustaz kok
malah pergi? Mau kemana, Ustaz?”.
“saya mau bangun.”
“lho kok?” panitia itu semakin
kebingungan.
“ini pasti mimpi, kan?”
“maksudnya?”
“saya sedang mimpi, kan? Ini di alam
mimpi, kan?”
“maaf, ustaz. Kalau ustaz pergi.
Siapa yang mengisi ceramah?”
“mas, coba bangunkan saya. Coba
tampar saya tau cubit saya,” pinta Heri sambil memegang tangan panitia itu
untuk menamparnya.
Sang panitia semakin bingung. “ini
bukan mimpi,ustaz.”
“saya tidak percaya. Ini pasti
mimpi.”
Kemudian Heri memejamkan mata
berkali-kali, mencubit pipinya serta menamparnya.
“Assalamu’alaikum, ustaz Heri.”
“Waa..waa...wa... wa’alaikumsalam,”
jawab Heri gugup, seratus kali lipat gugupnya setahun yang lalu.
“Maaf, ustaz. Bisa kita mulai
acaranya?”
“Tapi....”
“Ustaz,ini bukan mimpi. Ini
kenyataan. Kadang Allah punya rencana lain untuk kita.”
Heri tersadar. Betapa malunya dia
pada panitia yang mengantarnya dan beberapa peserta yang dari tadi
memperhatikannya dari dalam gedung. Mukanya merah padam. Ia ingin ketawa tapi
malu, ingin marah tapi tak bisa. Bahagia bercampur haru, ditambah rasa malu
yang sangat. Semua menjadi satu dalam benaknya.
Panitia yang mengikutinya hanya
tersenyum geli melihat tingkah ustaz yang seperti itu. “ustaz ini aneh,ya.
diminta ngasih materi malah bilangnya mimpi, hhihihi.....”
Sejak saat itu kedekatan Heri dengan
Tanti menjadi kenyataan dalam ikatan suci pernikahan, dalam ikatan yang halal.
Ada satu doa yang Heri masih ingat,
“Ya Allah, bila Tanti memeng jodohku, maka dekatkanlah.” Tulisan doa itu kini
dipajang di ruang kerjanya, ditulis dalam bahasa arab yang jarang dimengerti
maknanya oleh orang lain.
Senin, 28 Oktober 2013
Dia Lagi, Dia Lagi
“Nama Saya Muhammad Zaid, Tafadhol panggil saja Zaid”
“Hah??! Jahit??!” Seruku kaget
“Bukan Jahit Ukh, tapi Zaid “ katanya menegaskan
“ohhhh Jaid, saya Iffah”
“salah ukh, bukan Jaid tapi Zaid. Z bukan J” sahutnya memperbiki ejaan namanya, muka ku pun memerah menahan malu perasaan salah terus manggilnya
“I-iya dah Zaid, Afwan.” Kataku grogi
“Nah itu baru bener” ucapnya sambil tersenyum, “Nama itu do’a mbak, jadi kalo salah ya salah juga do’anya” tuturnya melanjutkan, “Iya dah tau!!!” teriakku dalam hati, hanya dalam hati.
“Antum kan yang di amanahi untuk bawa barang-barang ini??!” Tanyaku mengalihkan pembicaraan,
“Iya ukh, Ana ambil ya barangnya. Afwan merepotkan” katanya sambil mengambil barangnya.
“gak apa-apa kok Akh. Salam dari mbak Yasmin, beliau minta ma’af karena gak bisa ngantar langsung”
“Iya Wa’laikumsalam, ok ukh saya permisi yah. Assalamu’alaikum” ujarnya meminta diri
“Wa’alaikum salam….” Jawabku dan punggung itupun menghilang di ujung jalan.
Perkenalan yang cukup memalukan dengan ikhwan itu terjadi ketika Mbak Yasmin, Kakak Senior ku di kampus memintaku mengantar suatu barang untuk ikhwan itu karena mbak Yasmin berhalangan menyerahkan barang itu ke Akh Zaid, ada kegiatan organisasi diluar kota yang harus dihadiri . Awalnya ingin menolak permintaan dari Mbak Yasmin karena sama sekali tidak mengenal ikhwan yang punya barang tapi karena melihat wajah memelas Mbak Yasmin akhirnya tugas itu ku terima juga. Berbekal kenekatan akhirnya ketemu juga dengan ikhwan yang akhirnya ku tahu nama lengkapnya Muhammad Zaid, Ikhwan berkacamata yang kelihatannya cukup cerdas.
“Hah??! Jahit??!” Seruku kaget
“Bukan Jahit Ukh, tapi Zaid “ katanya menegaskan
“ohhhh Jaid, saya Iffah”
“salah ukh, bukan Jaid tapi Zaid. Z bukan J” sahutnya memperbiki ejaan namanya, muka ku pun memerah menahan malu perasaan salah terus manggilnya
“I-iya dah Zaid, Afwan.” Kataku grogi
“Nah itu baru bener” ucapnya sambil tersenyum, “Nama itu do’a mbak, jadi kalo salah ya salah juga do’anya” tuturnya melanjutkan, “Iya dah tau!!!” teriakku dalam hati, hanya dalam hati.
“Antum kan yang di amanahi untuk bawa barang-barang ini??!” Tanyaku mengalihkan pembicaraan,
“Iya ukh, Ana ambil ya barangnya. Afwan merepotkan” katanya sambil mengambil barangnya.
“gak apa-apa kok Akh. Salam dari mbak Yasmin, beliau minta ma’af karena gak bisa ngantar langsung”
“Iya Wa’laikumsalam, ok ukh saya permisi yah. Assalamu’alaikum” ujarnya meminta diri
“Wa’alaikum salam….” Jawabku dan punggung itupun menghilang di ujung jalan.
Perkenalan yang cukup memalukan dengan ikhwan itu terjadi ketika Mbak Yasmin, Kakak Senior ku di kampus memintaku mengantar suatu barang untuk ikhwan itu karena mbak Yasmin berhalangan menyerahkan barang itu ke Akh Zaid, ada kegiatan organisasi diluar kota yang harus dihadiri . Awalnya ingin menolak permintaan dari Mbak Yasmin karena sama sekali tidak mengenal ikhwan yang punya barang tapi karena melihat wajah memelas Mbak Yasmin akhirnya tugas itu ku terima juga. Berbekal kenekatan akhirnya ketemu juga dengan ikhwan yang akhirnya ku tahu nama lengkapnya Muhammad Zaid, Ikhwan berkacamata yang kelihatannya cukup cerdas.
****
Seminggu berlalu dari kejadian itu, hampir ku lupakan makhluk yang bernama zaid itu sampai akhirnya dipertemukan lagi dengannya di perpustakaan kampus. Siang itu dengan wajah kusut menyusuri lorong buku, mencari refrensi untuk bahan makalah.
“Duhhh mana seh bukunya??!” rutukku dalam hati, belasan menit menyusuri deretan buku tak juga kutemukan buku refrensi padahal tugas makalah harus ku kumpulkan dan dipresentasikan beberapa hari lagi. Mata ku terhenti pada buku biru tebal yang berada di tingkat 3 rak buku, mata kacamataku cukup yakin kalau itu buku yang kucari dari tadi. Dengan tinggi badan yang semampai (semeter gak sampai) ku coba mengambil buku itu, tapi apalah daya karena terlalu semangat menarik buku tak hanya buku biru yang terambil tapi beberapa buku lainnya ikut tertarik dan jatuh di lantai. Tentu saja suasana perpustakaan yang tentram dan damai menjadi berisik dengan jatuhnya buku-buku itu, tak ayal petugas perpustakaan pun dengan sigap menghampiri ku dan membantu membereskan buku-buku yang ada di lantai,
“Makanya mbak, kalo gak bisa ambil minta tolong aja!!!”
Degg, “suara ini terdengar familiar. Siapa ya??” ujarku dalam hati sambil memalingkan wajah pada sumber suara, tak habis rasa kagetku si sumber suara melanjutkan ucapannya lebih tepatnya omelannya,
“kalo sudah begini kan repot mbak, bikin ribut pula. Tuh ada banyak bangku yang bisa dipakai untuk ngambil buku kalo kependekan” tuturnya sambil memasang wajah judes,
“Duh ikhwan yang satu ini kok cerewet sekali yah??!” sahutku dalam hati
“i-iya ma’af akh, gak sengaja” kataku sambil menyerahkan buku untuk di atur diraknya dan itu membuat pandangan kami beradu. Astaghfirullah!!! Segera ku palingkan wajah tak ingin melanjutkan pandangan karena hal itu bisa menjadi jalan syaitan untuk menggoda. Karena dirasa sudah cukup akhirnya saya pun meninggalkan koridor buku dan menuju meja untuk membaca buku biru tadi. Ya, dia Ikhwan itu, ikhwan kacamataan yang kutemui seminggu yang lalu.
“Ikhwan aneh, tukang ngomel. kesalahan itu kan manusiawi. Masak sedikit-sedikit di omelin. Sok sempurna banget seh??” omelku dalam hati sambil membaca buku. “Tapi sejak kapan dia jaga perpustakaan??! Perasaan terakhir keperpustakaan tiga hari yang lalu bukan dia petugasnya. Apa pegawai baru??! Sudahlah ngapain jadi mikirin ikhwan itu” pikiranku pun ku fokuskan pada buku yang ada di hadapanku.
****
Nama beliau Muhammad Zaid.Beliau mahasiswa pindahan, sekarang masuk di semester tujuh fakultas pendidikan jurusan Matematika. Insya Allah akan bergabung dengan kita untuk berjuang bersama-sama di Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Berdasarkan keputusan musyawarah beliau ditempatkan di departemen dakwah dan pembinaan ummat.”
Penjelasan dari pemimpin rapat membuatku kaget setengah mati dan terjawab sudah pertanyaa-pertanyaan dibenakku selama ini tentang ikhwan itu. Ternyata dia mahasiswa pindahan, pantas baru ku lihat. Aku akan berada satu departemen dengan dia, dengan ikhwan cerewet itu.
“ukhti Iffah, tolong anti berikan beberapa data seputar kegiatan dan program kerja departemen ke beliau agar beliau bisa mempelajarinya. Ukhti??! Ukhti Iffah…??!” sahut pemimpin rapat dari belakang hijab
“eh i-iya akh, insya Allah” jawabku tersadar dari lamunan
“Alhamdulillah, karena agenda rapat sudah kita bahas tinggal kita turun saja nanti di lokasi.saya tutup rapat kita dengan do’a penutup majelis….”
Rapat pun di tutup dengan khidmat, do’a ku lebih panjang dari sebelumnya berharap bisa bekerja sama dengan baik bersama ikhwan itu. Bagaimanapun juga tidak boleh mementingkan ego di organisasi.
“Alhamdulillah, akhirnya pengurus departemen Dakwah dan pembinaan ummat kahirnya bertambah. Anti harus bersyukur ukh, selama ini kan anti sering protes ke pak ketua karena departemen anti paling sedikit pengurusnya” kata Mbak Tri bendahara LDK sambil tersenyum penuh arti padaku
“Hah?? Emangnya saya sering protes tentang itu ya mbak??!” kaget
“Lha??! Anti kok malah nanya lagi, salah satu factor yang membuat akh Zaid masuk ke departemen Dakwah dan Pembinaan ummat karena seringnya anti minta tambahan anggota, nah di setujui akhirnya oleh ketua LDK di musyawarah kemarin” tutur mbak Tri panjang dan aku pun hanya tersenyum lebih tepatnya meringis, permintaanku dikabulkan.
“Oh jadi begitu ya Mbak, alhamdulillah kalo begitu, semoga kehadiran beliau menambah semangat baru untuk departemen mbak. Syukron mbak”
“Iya dek sama-sama, semoga bisa memperkuat langkah kita. Anti gak ada kuliah sekarang??!” tanya Mbak Tri
“Iya ada mbak, lima menit lagi Insya Allah. Kalau begitu saya permisi dulu Mbak” sahutku sambil beranjak bangun dan menyalami Mbak Tri.
Suka tidak suka aku akan berinteraksi terus dengan ikhwan itu, di perpustakaan akan bertemu karena dia menggantikan petugas yang lama, di LDK pun akan lebih sering lagi kami berinteraksi karena satu departemen kerja. Insya Allah ini yang terbaik untukku, ku yakin Allah tidak akan sembarangan memberikan sesuatu pada hambaNya. Dalam perjalanan menuju ruang kuliah HP bututku berbunyi, sebuah SMS masuk dan segera ku buka,
“Assalamu’alaikum… kapan bisa saya dapatkan data dan program kerja departemen ukh?? Akh Zaid” Subhanallah, semangat sekali ikhwan yang satu ini. segera ku balas smsnya
“Insya Allah besok saya serahkan ke antum, jam 9 pagi saya antar ke perpustakaan. Gimana?” sms kukirim, beberapa menit kemudian sms balasan darinya muncul dilayar Hp
“iya ukh bisa, ana tunggu.”
Tak terasa sudah sampai di ruangan kuliah, ku matikan HP dan memulai aktivitas sebagai seorang mahasiswa dan melupakan sejenak urusan organisasi.
****
Pukul 09.17, 17 menit telah terlewati dari pukul 9. sudah dipastikan terlambat sampai perpustakaan, masih di angkutan umum. Terjebak kemacetan, katanya pak supir ada kecelakaan di depan jadi kendaraan belum bisa jalan karena harus mengevakuasi korban kecelakaan. Ku coba meng-SMS Akh Zaid memberitahu tidak bisa memenuhi janji tepat waktu, tapi SMS tidak terkirim juga ternyata setelah di cek pulsa habis, yang kulakukan hanya meratapi nasib di angkot. 30 menit berlalu baru angkot bisa jalan kembali, sesampai di kampus ku ayunkan langkah dengan tergesa-gesa agar segera sampai di perpustakaan.
“Assalamu’alaikum… Afwan akh, saya terlambat. Terjebak kemacetan di jalan tadi” ujarku ngos-ngosan
“Wa’laikum salam, anti ini bagaimana seh? Anti pikir ini jam berapa??! Anti sudah satu jam terlambat. Bukankah kita sudah di ajarkan untuk menghargai waktu?! Saya yakin anti sudah tau makna QS Al-Ashr ayat 1-3, Allah saja sampai bersumpah demi waktu. Makanya kita tidak maju-maju juga, jam yang kita pakai jam karet!!!”
“Apa??! Kok antum ngomong begitu seh??! Saya sudah bilang angkot yang saya naiki terjebak kemacetan karena ada kecelakaan, jalan ditutup sementara” ujarku emosi
“Anti kan bisa turun cari angkot lain atau bagaimnalah supaya bisa tepat waktu, saya juga punya kesibukan lain selain harus nunggu anti, pukul 10 ini saya ada janji dengan dosen.”
“Antum kira saya sengaja datang terlambat??! Memangnya di dunia ini hanya antum yang punya kesibukan??! Saya juga punya urusan.!!” Sungutku dengan wajah memerah
“Ok ok ok, mana data dan program kerjanya??!” katanya tanpa muka brsalah sedikitpun, dan segera ku sodorkan map hijau yang sedari tadi ku pegang,
“Kalo ada pertanyaan seputar program kerja, antum tanya saja ke pak ketua atau ikhwan lain. Antum kan pinter.” Ujarku sambil pergi meninggalkan perpustakaan.
Ku langkahkan kaki menuju musholla kampus untuk berwudhu dan menenangkan diri, tak ingin terlalu terbuai oleh emosi. Di Musholla ternyata ada Mbak Tri yang sedang tilawah, wajahnya menggambarkan kebingungan melihat wajahku yang kusut,
“Assalamu’alaikum ada apa dek??! Tumben kusut kayak gitu” sambil menyalamiku
“Wa’alaikum salam, mbak kenapa saya dipertemukan dengan ikhwan secerewet itu??! Amit-amit dah punya suami kayak gitu!!” ujarku merengut
“Maksudnya? Ngapain apaki amti-amit segala?? Hati-hati kalau berbicara adek sayang”
“Itu lho mbak, Akh Zaid. Kayaknya sejak ketemu ma dia bawaannya emosi terus mbak. Tadi saja, gara-gara terlambat satu jam dari janji dia ngomel-ngomel. Saya kan terlmabat bukan karena keinginanku mbak, terjebak kemacetan tadi. Ya sudah program kerjanya saya suruh aja pahami sendiri” ceritaku panjang
“Masya Allah dek, jangan sampai terbawa emosi seperti itu. Sabar dong, Akh Zaid tampaknya tipekal melankolis lagian dia orang baru. Jadi di pahami saja, tidak baik kalo segala hal diselesaikan dengan emosi. Sudah berwudhu??” ujar Mbak Tri menenangkan
“Iya mbak udah, astaghfirullah. Syukron mbak dah ingetin, Insya Allah saya akan lebih bersabat lagi”
“Alhamdulillah, usahakan silaturahim lagi dengan Akh Zaid. Satu departemen harus kompak, gimana mau mengurusi ummat kalo satu sama lain masih jontok-jontokkan” kata mbak Tri sambil tersenyum
Belum sempat meng-iyakan ucapan mbak Tri Hp ku berbunyi, ada SMS masuk dari Akh Zaid
“Ukhti, saya mohon ma’af kalau tadi dah bersikap kasar. Afwan jiddan, saya hanya ingin kita semua menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakan tiap detik dengan hal-hal yang tidak berguna. Ekali lagi Afwan jiddan”
“Mbak Tri, sms dari akh zaid ney. Beliau minta ma’af” kataku sambil menyerahkan HP ke mBak Tri untuk dibaca
“Subhanllah, ya udah saling mema’afkan saja” kata mbak Tri sambil menyunggingkan senyum manisnya
“Sip mbak” kataku sambil memamerkan senyum.
Hari yang bermakna, belajar memahami dan bersabar. Tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan.
*****
Malam ini hatiku tak menentu, setelah perbincangan serius dengan guru ngajiku, Mbak Fauziah yang membuatku resah. Perbincangan tentang masa depan, tentang pernikahan. N-I-K-A-H, hal sakral yang selama ini ku hindari bukan karena takut tapi lebih karena memikirkan masa depan yang harus difikirkan secara matang dan serius, pernikahan bukanlah hal sederhana karena ini menyangkut efek jangka panjang. Siapa yang tidak mau memenuhi diennya??! Siapapun mau, tapi hanya sedikit yang mau memikirkannya dengan baik-baik. Perbincangan sore itu,
“Dek, apa anti sudah siap menjalani kehidupan rumah tangga islami??!” pertanyaan yang membuat jantungku berdetak lebih cepat
“Aduh mbak, perasaan mbak dah menanyakan hal itu 2 kali mbak” jawabku grogi,
“Apakah jawabannya juga sama dek??! Mbak berharap jawaban untuk yang ini berbeda”
“Afwan mbak, mungkin jawaban yang ini juga sama. Iffah masih kuliah, banyak hal yang mesti dilakukan dan difikirkan” jawabku menunduk
“Iya mbak mengerti, tapi tidakkah Iffah ingin menggenapkan dien??! Pernikahan tidak menghalangi untuk kuliah, tidak mengahalangimu untuk melakukan banyak aktivitas. Pikirkanlah baik-baik, bukankah orang tuamu juga tidak menghalangi? Akan ada banyak fitnah yang datang jika Iffah menolak terus menerus” Mbak Fauzi meyakinkan.
“ Huuuuffft, akan ku pikirkan lagi mbak.” Sahutku berat
Sesungguhnya amat lelah menghadapi fitnah yang muncul beberapa bulan yang lalu pasca kejadian penolakan yang ku lakukan terhadap seorang ikhwan. Entah angina mana yang mengabarkan itu ke telinga-telinga mahasiswa di kampus. Apa lagi pasca ikhwan itu menikah dengan akhwat lain, akhwat yang lebih segala-galanya dariku dan seakan akan semua mencibir. Tapi itu memang sudah berlalu walau menyisakkan sakit di hati karena di fitnah macam-macam. Tak ada halangan berarti yang membuatku menolak untuk kali ini, orang tua pun menyerahkan sepenuhnya kepadaku. Tapi berat, begitu berat terasa. Dalam istikharah ku pinta keteguhan hati dan pilihan yang terbai dari Allah. Sujudku pun luruh.
****
Seminggu setelah perbincangan itu, seminggu dengan terus menghidupkan malam dengan sujud panjang dan do’a khidmat meminta keputusan terbaik dari allah
Keyakinan itu begitu kuat hadir memenuhi rongga hati, keragu-raguan seakan sirna. Setelah membaca banyak buku tentang pernikahan dalam sepekan ini, buku-buku yang sudah berdebu karena tidak pernah lagi ku baca, memantapkan keyakinanku. Sorenya dengan degub jantung yang cepat,
“Mbak, Insya Allah Iffah siap untuk menerima tawaran mbak sepekan yang lalu. Sungguh mbak, keputusan ini bukan karena rasa tidak enak tapi rasa yakin ini hadir setelah beristikhoroh dan memikirkan seobjektif mungkin” kataku membuka pembicaraan, Mbak Fauziah tersenyum dan memelukku erat,
“Subhanallah, Alhamdulillah… tunggu sebentar dek” ujar Mbak Fauziah sambil bangun dan melangkah kedalam rumah, setelah beberapa saat menunggu Mbak Fauziah pun muncul dengan sebuah map biru di tangannya
“Mbak berharap dia yang terbaik untukmu. Bacalah isinya baik-baik, jangan lupa berwudhu. Pikirkan baik-baik dan minta petunjuk kepada Allah” kata Mbak Fauziah sambil menyerahkan map itu ketanganku, dan aku menerimanya dengan gugup,
“Insya Allah mbak”
“Kira-kira Mbak bisa dapat jawabannya hari apa dek?” tanya mbak Fauziah
“Berikan waktu sepekan mbak, Insya Allah pekan depan Mbak sudah menerima jawaban dari Iffah” jawabku
“Baiklah, mbak akan tunggu jawabanmu. Tolong jangan berhubungan dengan ikhwan ini baik secara langsung, kalau ada apa-apa hubungi saja mbak. Mbak yang akan menghubungi ikhwan ini” kata Mbak Fauziah menegaskan
“Insya allah mbak” Sahutku dengan senyum syahdu.
Sepulang dari rumah Mbak Fauziah hampir maghrib, tidak sempat membuka isi map biru itu. Map itu ku simpan baik-baik dalam laci meja belajar, ingin membacanya setelah sholat tahajud agar hati dan pikiran lebih tenang.
****
Acara Baksos LDK terlaksana dengan sukses, acara yang cukup sederhana namun bermakna yaitu menggalang dana untuk membantu perbaikan bangunan panti asuhan di kotaku yang sudah mulai rusak. Tiga hari pelaksanaanya mulai dari menggalang dana ketiap instansi pemerintahan sampai di jalan raya kota setelah itu baru kami belikan bahan-bahan bangunan dan menyerahkannya pada pihak panti. Subhanallah melihat senyum kebahagiaan anak-anak panti memberikan semangat dan kebahagiaan yang berbeda di hati, capek seakan sirna seketika. Setelah acara penyerahan bantuan selesai kami kembali ke kampus untuk sedikit evaluasi sebelum laporan pertanggung jawaban.
Rapat evaluasi berjalan, tak ada kesalahan berarti selama pelaksanaan baksos. Hanya beberapa hal tekhnis diluar perencanaan yang sedikit membuat pelaksanaan baksos agak terlambat. Setelah rapat evaluasi aku tidak langsung pulang, beristirahat sebentar di mushlla kampus. Nampak bendahara kegiatan juga belum pulang, masih mengecek data anggaran.
“Mbak Iffah, tolong cek data anggaran ini mbak. Takutnya ada yang terlewatkan” katanya sambil mendekat ke arahku
“Map biru, kayaknya map ini saya kenal” ucapku dalam hati sambil memikirkan dimana melihat map seperti itu pernah kulihat dan mengambil map yang berisi data anggaran dari tangan bendahara
“Inalillah!!!!” kataku sambil menepuk dahi
“A-ada apa mbak?? Ada yang salah ya??” kata bendahara kaget
“eh bukan dek, bukan. Mbak keingat sesuatu. Afwan” sahutku sambil membaca data anggaran, tapi pikiranku melayang pada Map biru yang diberikan Mbak Fauzi tiga hari yang lalu dan belum kusentuh sampai sekarang.
“Datanya sudah bagus kok, insya Allah tidak ada yang terlewat” kataku sambil menutup map dan menyerahkannya pada bendahara.
“Alhamdulillah, syukron mbak”
“Aama-sama dek, mbak pulang duluan dulu yah. Afwan” ujarku sambil membereskan ransel dan menyalami bendahara
“Iya dah mbak, hati-hati di jalan”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” jawab sang bendahara sambil tersenyum
Dengan langkah terburu-buru aku keluar dari musholla dan menuju gerbang kampus, ingin rasanya segera sampai kerumah dan membuka isi map biru itu. Karena disibukkan dengan Baksos Map itu tak sempat ku baca hingga tiga hari berlalu.
****
Bismillah, di tengah keheningan malam kubuka map biru itu………..
“APA???!!!!!” mataku sedikit membelalak membaca data yang ada di map, kuperbaiki letak kacamata berharap yang tadi salah baca, tapi tetap saja isi data itu tidak berubah. Nama, tempat tanggal lahir…..
“Subhanallah, dia lagi dia lagi!!! Muhammad Zaid, lahir di Bima, 08 desember 1987” mukaku berubah pias, kubuka halaman selanjutnya ada foto seorang ikhwan. Ku harap bukan wajah kacamata itu yang terpampang disana. Setelah memperhatiak tumenyebalkan yang tidak boleh sedikitpun namanya salah dipanggil.
“Apa gak ada yang lain yah??!” tanyaku pada diri sendiri, Hp bututku bergetar pendek menandakan ada SMS masuk,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. Allah lah yang Maha Tahu apa yang Terbaik untuk Hambanya, karena Dia akan memberi apa yang DIBUTUHKAN hambaNya bukan apa yang diingini hambaNya.”
Sms dari Mbak Fauzi, membacanya membuat air mataku mengalir perlahan dari sudut mata. Allah lah Yang Tahu segala-galanya, kita hanya bisa merencanakan. Tiga hari lagi, ya tiga hari lagi keputusan itu akan ku ungkapkan. Tiga hari ini semoga Keputusan dari Allah mewarnai keputusanku.
“Duhai Rabb, Engkau Yang Maha menggerakkan hati. Yakinkan hatiku untuk menerimanya jika memang dia bagian dari tulang rusukku, dekatkan dan permudahkanlah jalan ini. namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah dan gantikanlah dengan yang terbaik dariMu….” Do’a panjangku mengalun menghiasi malam
Langganan:
Komentar (Atom)