Selasa, 28 Januari 2014

Berbagai Adat Tradisi Suku Bugis 2




MASSEMPE’

Berbagai macam cara dan tradisi dilakukan warga dalam rangka menyambut bulan Syawal di Kabupaten Bone. Salah satu tradisi yang dilakukan adalah massempe', yang digelar di Desa Mario Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone, Tradisi baku tendang merupakan sajian paling ditunggu oleh ratusan warga yang rela berdesak-desakan di tengah teriknya matahari. Meskipun terkesan anarkis, namun tradisi ini justru merupakan ajang silaturrahmi antar warga di kampung mau pun kampung tetangga.
Tradisi massempe selain dilakukan dalam rangka mempersiapkan diri mengikuti tradisi menyambut bulan Syawal juga dilakukan untuk menyambut pesta panen raya di desa itu. Ratusan warga memenuhi alun-alun. Sebelum melakukan pertarungan terlebih dahulu para peserta melakukan prosesi berjalan sambil menepuk-nepuk paha mengelilingi lapangan.
Satu-perersatu peserta bertarung satu lawan satu. Dalam pertarungan ini peserta hanya bisa mengandalkan kaki dan tak boleh menggunakan tangan. Duel dipandu oleh dua orang sesepuh kampung. Tak jarang dalam salah satu pertandingan, peserta mengalami luka. Meski demikian tak ada dendam antarsesama peserta.
Massempe juga memiliki aturan tersendiri. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan secara turun temurun itu, maka peserta yang melanggar akan mendapatkan hukuman yaitu tidak akan diikutkan bertanding pada tahun berikutnya. Aturan yang tidak boleh dilanggar, adalah jika peserta duel dengan menggunakan tangan.
Massempe dilakukan dengan pertandingan dua pria yang seumuran seperti silat. Namun dalam Massempe, peserta tidak diperkenankan menggunakan tangan melainkan hanya menyerang dengan kedua kaki.




CEMME PASSILI

Indonesia memang terkenal dengan berbagai macam budaya yang tersebar dipelosok nusantara. Nah untuk itu, sebagai warga Negara Indonesia untuk menghormati dan melestarikan budaya leluhur memang patut kita lakukan, agar budaya itu bisa ‘hidup’ sepanjang masa, kendati di tengah serbuan jaman modernisasi.
Salah satu ritual yang merupakan bagian dari budaya Indonesia yang masih selalu digelar oleh masyarakat Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan setelah masa panen adalah ritual cemme passili.
Cemme passili berasal dari bahasa adat bugis Bone yang terdiri dari dua kata yaitu cemme dan passili. Cemme dalam bahasa Indonesia berarti mandi, sedangkan passili berarti membersihkan diri.
Pelaksanaan ritual ini sangat ramai. sejak pagi, ribuan warga yang berasal dari desa tetangga memadati bibir sungai Ulo untuk menyaksikan ritual cemme passili itu.
Sementara itu, sebelum cemme passili berlangsung, terlebih dahulu warga melakukan pemotongan kuda, lalu dimasak untuk disajikan bagi para tamu dan kerabat mereka yang berkunjung untuk melihat pelaksanaan ritual yang dinilai sakral tersebut.
Ritual cemme passili dimulai dengan pemanjatan doa yang dilakukan oleh sesepuh adat yang kemudian menceburkan para tokoh adat dan kepala desa kedalam sungai. Kemudian ritual dilanjutkan oleh seluruh warga yang saling menceburkan, baik laki-laki maupun perempuan serta dari berbagai usia. Bahkan dalam prosesi ritual ini, tak jarang warga Desa terlihat kejar-kejaran karena ingin saling menceburkan ke sungai.
Cemme passili tersebut merupakan tradisi turun temurun yang selalu digelar setiap setahun sekali. Tradisi itu merupakan hajatan agar warga selalu dilimpahkan hasil bumi. Selain itu, cemme passili juga dianggap sebagai tolak bala agar tahun berikutnya mereka tidak dilanda kekeringan.
Konon, tradisi itu berawal ketika bencana kekeringan melanda daerah tersebut pada masa kerajaan Ulo, maka raja pada waktu itu meminta kepada seluruh rakyat untuk berdoa meminta hujan sambil bermain air di dasar sungai yang juga sudah hampir kering.


TARI SERE BISSU MAGGIRI

Keberadaan Tari Sere Bissu Maggiri di Kabupaten Bone, tidak lepas dari keberadaan Kerajaan Bone. Bila ditelusuri latar belakang sejarah Tari Sere Bissu Maggiri, maka akan ditemukan berbagai jenis pandangan yang berbeda dengan seni pertunjukan tradisi lainnya. Perbedaan pandangan tersebut merupakan suatu pertanda bahwa Tari Sere Bissu Maggiri memiliki ruang publikasi yang luas di kalangan masyarakat Bugis Bone baik pada masa lampau, maupun di saat sekarang ini.
Mabbissu berawal dari kata bissu atau bessi  yang berarti bersih atau suci dan kuat. Mereka dipanggil Bissu karena  tidak haid, tidak berdarah, atau suci. Biasanya tari mabbisu ini diperagakan oleh enam bissu utama yang dipimpin oleh ketua bissu. Bissu itu sendiri berjenis kelamin laki-laki namun sifat dan karakternya seperti perempuan dalam bahasa Bugis  disebut Calabai. Komunitas bissu yang masih bertahan hingga saat ini, dalam lektur lama (epos La Galigo), dianggap sebagai manusia suci, keturunan para dewa dan dalam stuktur kerajaan di Sulsel, bissu merupakan penasihat spiritual dan rohani para raja.
          Tari Sere Bissu Maggiri ini, diperkirakan muncul sejak zaman pemerintahan Raja Bone ke 1, yang bergelar To Manurung Ri Matajang yang memerintah sekitar tahun 1326-1358.  Pendapat lain yang menyatakan, bahwa tari Sere Bissu Maggiri itu muncul setelah adanya Bissu (waria) di Kabupaten Bone. Olehnya itu, tari Sere Bissu Maggiri menjadi salah satu bagian dari tari Sere Bissu  yang ada.      
Tarian tersebut hanya tumbuh dan berkembang di dalam istana dan diasuh oleh keluarga raja. Penarinya adalah bissu, petugas khusus dalam pelaksanaan upacara-upacara adat dan keagamaan suku Bugis. Sehingga keberadaan tari Sere Bissu Maggiri tersebut bersamaan dengan munculnya tari Sere Bissu. Berdasarkan kepercayaan orang-orang tua dahulu, bahwa bissu muncul bersamaan dengan To Manurung, Raja Agung dari khayangan yang turun ke bumi. Misi To Manurung adalah untuk menyelamatkan rakyat Bone dari kekacauan yang terjadi setelah keturunan Sawerigading sudah tidak ada. Dengan demikian bissu menempati kedudukan sebagai pengapit To Manurung atau dengan kata lain bissu adalah silongna (temannya) To Manurung.
         Setelah rakyat Bone mengetahui kehadiran To Manurung, maka rakyat berbondong-bondong meminta mereka untuk menjadi raja Bone pada saat itu. Kemudian setelah To Manurung memerintah Kerajaan Bone, maka upacara-upacara adat kerajaan mulai dilaksanakan. Dan pada saat itu pula Tari Sere Bissu Maggiri untuk pertama kalinya dipentaskan dan dijadikan sebagai sarana upacara adat kerajaan.          
Dengan  diiringi tabuhan gendang berirama khas, mereka melantunkan alunan mantra  mistis menggunakan bahasa To Rilangi (bahasa kuno orang Bugis) sambil menari memutar Arajangnge,  benda yang dikeramatkan dan diyakini sebagai tempat beristirahat ruh leluhur. Ketika alunan gendang semakin keras dan cepat,  gerakan para Bissu pun semakin pelan dan mulai  kehilangan  kesadaran. Pada saat itu, para Bissu mulai memeragakan gerakan maggiri,  melepaskan keris panjang yang mereka selipkan dipinggang, kemudian menusukkannya ke tubuh  mereka. Hal ini bertujuan untuk menguji apakah roh leluhur/dewata sudah merasuk ke dalam diri  mereka. Jika mereka kebal, berarti Bissu itu dan roh yang merasukinya  dipercaya dapat memberikan berkat. Sebaliknya, jika badik melukai tubuh mereka, berarti yang merasukinya adalah roh lemah atau bahkan  tidak dirasuki roh leluhur sama sekali.


SERAWU SULO

Ada tradisi menarik yang dilakukan warga Dusun Tengnga-tengnga, Desa Pongka, Kecamatan Tellu Siattingnge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dalam memperingati leluhur mereka. Mereka menggelar tradisi perang api atau dikenal dengan "Serawu Sulo". Tradisi ini hanya digelar setiap tiga tahun sekali oleh masyarakat setempat.
Dalam tradisi ini, puluhan warga saling lempar api dengan menggunakan obor berbahan daun kelapa kering yang diikat menyerupai lembing, tak ayal tradisi ini banyak memakan korban luka bakar. Uniknya, meski tradisi ini terkesan ekstrim dan konyol, namun malah menjadi ajang silaturrahmi warga setempat.
Sebelum memulai ritual ini terlebih dahulu dua pemuka adat atau "Sandro" yang terdiri dari pria dan wanita melakukan ritual berserah diri atau "Mappangolo". Sementara warga yang akan menjadi peserta perang api membasuh sekujur tubuhnya dengan minyak kelapa muda yang diserahkan oleh tokoh adat.
Hal ini merupakan  hasil dari "Mappangolo". Dengan diiringi arakan ratusan ekor ayam keliling kampung, mereka ingin menyimbolkan perjalanan nenek moyang mereka -- dikenal dengan Mabule Manu". Arak-arakan ini berakhir di lapangan terbuka, untuk memulai tradisi perang api.
Di lapangan terbuka inilah puluhan warga saling serang dengan menggunakan obor disaksikan ribuan warga yang sengaja datang dari berbagai pelosok tempat. Saling lempar api hingga saling membakar lawan disertai sorakan bercampur tabuhan gendang mewarnai tradisi ini.
Sejatinya tradisi ini bermula dari nenek moyang mereka yang merupakan penduduk Kabupaten Soppeng. Dahulu kala, mereka mengungsi lantaran tidak sepakat dengan kebijakan salah seorang raja yang memerintah kerajaan Soppeng kala itu. Mereka pun meninggalkan harta kekayaan dan kampung halamannya dengan hanya berbekal sejumlah ekor ternak ayam dengan menggunakan obor sebagai alat penerangan di malam hari.
Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, merekapun menemukan lahan hunian yang kini masuk dalan wilayah Kabupaten Bone. Lahan itu mereka nilai layak untuk dihuni, dan tersembunyi dari kerajaan. Merekapun bersukacita dengan melemparkan obor mereka, sebagai luapan kegembiraan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar