TATA CARA PERKAWINAN ADAT BONE
Setiap suku bangsa di dunia tentu memiliki adat kebiasaan atau tradisi yang
menjadi ciri khas daerahnya. Demikian pula Bangsa Bugis khususnya suku Bugis
Bone. kronologis dan tatabahasa yang sering digunakan oleh bangsa bugis dalam
melaksanakan hajatan pernikahan tersebut.
1. MAMMANU'-MANU' = MAPPESE'-PESE' = MAPPAU RI BOKO TANGE' = MABBALAWO CICI
= MABBAJA LALENG : Artinya Menjajaki, pendekatan, pembuka jalan, merintis.
2. LETTU' = MASSURO = MADDUTA. Artinya Melamar atau menyampaikan lamaran
atau meminang yang dilakukan oleh salah seorang atau masing-masing duta dari
kedua belah pihak untuk berdialog dan waktu melamar belum melibatkan banyak
orang. Biasanya paling banyak 3-5 orang dari masing-masing pihak termasuk kedua
duta.
3. MAPPASIAREKENG. Artinya mengukuhkan kembali apa yang telah disepakati
oleh kedua duta yang dihadiri oleh sespuh dari masing-masing pihak. dalam
pelaksanaannya belum melibatkan banyak orang, yaitu cukup kedua duta bersama
sesepuh dari masing-masing pihak. Pada waktu inilah ditentukan pelaksanaan
Mappettu Ada yang artinya mengambil keputusan, kapan dilaksanakan acara
Mappettu Ada. Setelah sudah ada kesepakatan penentuan waktunya barulah
dilaksanakan.
4. MAPPETTU ADA. Artinya mengambil keputusan bersama segala sesuatunya yang
akan dilaksanakan, termasuk kesepakatan duta terdahulu dan selanjutnya
kesepakatan waktu itu mengenai :
a. SOMPA atau SUNRANG yaitu Mahar atau mas kawin, sebagai hukum syariah.
b. DOI MENRE' = BALANCA.Artinya Uang naik, sebagi hukum adat.
c. LEKO' atau ALU' = KALU = ERANG-ERANG = TIWI-TIWI. Artinya bawaan atau
seserahan. dalam bahasa Bugis Bone disebut " Passuro' atau Mita "
yang diantar sewaktu hari pelaksanaan akad nikah.
d. ACCATAKENG. Artinya biaya pencatatan pada penghulu.
e. PAKEANG BOTTING. Artinya busana pengantin yang akan disepakati.
f. TONANGENNA. Artinya kendaraan yang dibutuhkan dari kedua belah pihak.
g. Pelaksanaan hari " H " seperti :
Ø Mappapenning atau Mappaenre' Botting. Artinya mengantar calon pengantin
laki-laki ke rumah calon pengantin perempuan untuk melaksanakan akad nikah.
Ø Akkalabinengenna. Artinya akad nikah
Ø Mapparola. Artinya sesudah akad nikah, pengantin perempuan bersama
pengantin laki-laki diantar kerumah pengantin laki-laki.
Ø Aggaukeng. Artinya pelaksanaan pesta atau resepsi dari kedua belah pihak.
5. MASSARAPO=MABBARUGA. Artinya tempat pelaksanaan pesta disiapkan.
6. MAPPALETTU' SELLENG = MATTAMPA. Artinya menyampaikan undangan kepada
handai tolan dan kerabat lainnya.
Kedua calon pengantin sangat dibatasi lingkup geraknya demi menghindari
hal-hal yang tidak diharapkan. dalam istilah bahasa Bugis Bone disebut "
RAPO-RAPONNA'
Khusus calon pengantin perempuan disebut " RIPALLEKKE "atau
" RIPASSOBBU". Artinya " dipingit' ditempatkan pada suatu kamar
khusus. nanti muncul setelah 5 atau 3 hari sebelum akad nikah.
Selama dipingit sampai hari pelaksanaan nikah, banyak acara ritual yang
masing-masing punya makna atau simbol, dalam bahasa Arab disebut TAFAUL dan
dalam bahasa Bugis disebut SENNU-SENNUANG atau SENNU-SENNURENG. antara lain :
Ø Mabbedda' Bolong. Artinya memakai bedak hitam dari beras yang sudah
disangrai atau digoreng sampai hangus tanpa minyak yang ditumbuk bersama bangle
sampai halus. Untuk pemakainannya dicampur dengar jeruk nipis, baru dioleskan
kebagian anggota tubuh utamanya wajah, lengan, kaki, dan lainnya, dibiarkan
sampai kering dan lengket betul. Hal ini persiapan untuk mandi sebagai
"Lulur".
Ø Ripasau. Artinya mandi uap.
Ø Cemme Passili. artinya mandi tolak bala (cemme tula' bala).
Ø Macceko. Artinya membuka atau mencukur bulu-bulu halus pada bagian
tertentu, untuk memuluskan kulit utamanya wajah sebelum acara Tudang Penni
artinya Malam Pacar.
Ø Tudang Penni atau malam Pacar pada umumnya dilaksanakan seperti : khatam Al-Quran,
Barzanji, Mappacci dan kegiatan lainnya sampai pagi. Kegiatan ini persiapan
untuk menunggu calon pengantin pria dalam pelaksanaan akad nikah esok harinya.
7. PELAKSANAAN AKAD NIKAH
Dalam bahasa Bugis
"Akkalibinengeng atau "Appasialang", sebagai acara puncak yang
sakral, dengan resminya menjadi pasangan suami isteri. sebelum acara akad nikah
dan sesudahnya, masih banyak acara yang perlu dilaksanakan dari kedua belah
pihak, seperti :
a. Pihak perempuan lebih awal mempersiapkan segala sesuatunya menunggu
kedatangan rombongan dari pihak laki-laki dalam bahasa bugis disebut "
Madduppa Botting
b. Pihak laki-laki juga demikian halnya, untuk menuju kediaman calon
pengantin perempuan lengkap dengan bawaannya yang disebut Leko' serta walasuji
dan maharnya diantar oleh sanak saudara, handai tolan, kerabat keluarga bahkan
pinisepuh/sesepuh. Rombongan tersebut dalam bahasa Bugis disebut "
Pampawa Botting atau Pappapenning "
c. Sesudah pelaksanaan akad nikah ada pula acara yang disebut "
Mappasiluka atau Mappasikarawa " artinya membatalkan wudhu yakni pengantin
pria menuju kamar pengantin wanita (isterinya) untuk bersalaman sebagai
pertanda sudah sahnya sebagai suami isteri. Pada saat inilah"Inang Botting
" dari pihak perempuan dan " Amang Botting " dari pihak
laki-laki menggunakan baca-bacanya atau mantra, artinya ilmu agar pasangan ini
dapat menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warohmah.
d. Sesudah acara tersebut keluar dari kamar untuk menemui orang tua /
pinisepuh untuk menyampaikan permohonan maafnya, memohon doa restunya agar
segala kesalahan, dosa, dan kedurhakaannya dimaafkan agar mereka dapat hidup
bahagia, sejahtera, aman, dan damai dunia akhirat. Dalam bahasa Bugis disebut
" MELLAU ADDAMPENG " dalam bahasa Jawa "Sungkeman"
e. Sesudah acara tersebut, keduanya diantar menuju baruga untuk duduk
bersanding di atas pelaminan yang disaksikan para tamu undangan yang hadir.
f. Setelah rombongan atau pengantar pengantin pria sudah pulang, maka dari
pihak wanita mempersiapkan rombongannya untuk mengantar pengantin wanita
bersama pengantin pria. sebagai umpan balik sekaligus pengantin wanita menemui
mertuanya/pinisepuh. Kegiatan ini disebut "MAPPAROLA' sekaligus "MAMMATOWA"
dalam bahasa Bugis.
Kegiatan ini dapat dilakukan apabila jarak tempat keduanya berdekatan
karena acara pesta atau Aggaukeng dari pihak perempuan dilaksanakan pada malam
harinya (pada hari tersebut). Adapun kalau tempat berjauhan maka pada hari itu
belum dilaksanakan acara Mapparola, nanti esok harinya dilaksanakan, maka acara
ini disebut 'MAROLA MABBENNI'untuk pertama kalinya.
g. Waktu pelaksanaan Marola, maka acara pesta dari pihak pria baru dilaksanakan.
h.Setelah keduanya telah melaksanakan pesta, maka pasangan suami isteri ini
dapat dikatakan mandiri.Dalam bahasa Bugis disebut "NALAOWWANNI
ALENA". Namun masih ada kegiatan-kegiatan yang perlu dilalui seperti :
Ø Marola Wekkadua. Artinya pengantin perempuan diantar oleh dua atau tiga
orang perempuan untuk bersama-sama ke rumah pengantin laki-laki dengan pakaian
biasa dan bermalam satu malam. Pada subuh harinya, pengantin bersama
pengantarnya kembali sesudah sarapan. Maka pada saat itu mertua pengantin
wanita memberikan hadiah kepada menantunya.
Ø Ada pula yang disebut acara "MAPPITU" dari pihak laki-laki, yaitu
tujuh orang wanita tua berbaju Ponco' atau 'Baju Tokko' dalam bahasa Bugis dan
dalam bahasa Makassar disebut 'Baju Bodo' bersama tiga orang tua lainnya,
datang ke rumah pengantin wanita dengan membawa kue-kue adat seperti : Dodoro',
Baje, Beppa pute, Beppa laiyya, Cucuru' Tenne, dan lain-lain. Kedatangan
tersebut dimaksudkan silaturahim dalam membina kerukunan keluarga yang dalam
bahasa Bugis disebut "MASSITA BAISENG".
Ø Mabbarazanji yang dimulai keluarga wanita kemudian disusul oleh keluarga
pihak pria. Ini sebagai pertanda rasa syukur atas terlaksananya apa yang
diharapkan. Pada acara ini, pengantin bisa bermalam bisa juga tidak. Dan pada
saat itu pula dilaksanakan suatu kegiatan yang lazim disebut "MALLUKA
SARAPO".
Ø Poleang Punge'. Artinya setelah acara Mabbarazanji dilaksanakan, maka subuh
esok harinya, pengantin pria kembali ke rumahnya untuk mengambil seperti : Gula
Merah (manis), Kelapa (gurih), dan Telur (bulat/menyatu).Hal ini dimaksudkan
sebagai simbol atau tafaul atau Sennu-sennuang. Agar semoga kehidupannya kelak
serba berkecukupan, yang dalam bahasa Bugis mengatakan TENNAPODO MACENNING
MALUNRA'ATUWONG-TUWONG LINONA" dan senantiasa menyatu. barang tersebut
diteruskan ke pangkuan sang isteri sebagai Penghasilan pertama dari Suami
(Poleang Punge') dan langsung disimpan oleh sang isteri.
Ø Selanjutnya Ziarah kubur dan mandi-mandi.
( sumber : http://telukbone.blogspot.com/)
UPACARA MAPPASSILI DI
BONE
Upacara tujuh bulan kehamilan, dalam bahasa Bugis Bone disebut Mappassili,
artinya memandikan. Makna upacara ini adalah untuk tolak bala atau menghindari
dari malapetaka/bencana, menjauhkan dari roh-roh jahat sehingga segala kesialan
hilang dan lenyap. Acara itu diawali dengan iring-iringan pasangan muda
tersebut, dalam pakaian adat Bugis menuju sebuah rumah-rumahan yang terbuat
dari bambu dengan hiasan bunga dan pelaminan yang meriah oleh warna-warna yang
mencolok. Sebelumnya, calon ibu yang hamil tujuh bulan dari pasangan muda ini
harus melewati sebuah anyaman bambu yang disebut Sapana yang terdiri dari tujuh
anak tangga, memberi makna agar rezeki anak yang dilahirkan bisa naik terus
seperti langkah kaki menaiki tangga.
Upacara Mappassili diawali dengan membacakan doa-doa yang diakhiri oleh
surat Al-Fatihah oleh seorang ustadzah. Bunyi tabuh-tabuhan dari kuningan yang
dipegang oleh seorang bocah laki-laki mengiringi terus upacara ini. Selanjutnya
upacara ini dipimpin oleh seorang dukun. Ia mengambil tempat pembakaran dupa
dan diputar-putarkan di atas kepala sang ibu. Asap dupa yang keluar,
diusap-usapkan di rambut calon ibu tersebut. Perbuatan ini memberi makna untuk
mengusir roh-roh jahat yang bisa mengganggu kelahiran bayi.
Menurut kepercayaan mereka, roh jahat itu terbang bersama asap dupa. Kalau
dalam adat Jawa, upacara tujuh bulan dilakukan dengan menyiram tubuh calon ibu,
namun di Mappassili hanya memercikkan air dengan beberapa helai daun ke bagian
tubuh tertentu, mulai dari atas kepala, bahu, lalu turun ke perut. Bahu
menyimbolkan agar anak punya tanggung jawab yang besar dalam kehidupannya.
Demikian pula tata cara percikan air dari atas kepala turun ke perut, tak lain
agar anaknya nanti bisa meluncur seperti air, mudah dilahirkan dan kehidupannya
lancar bagai air.
Usai dimandikan, dilanjutkan dengan upacara makarawa babua yang berarti
memegang atau mengelus perut. Pernik-pernik pelengkap upacara ini lebih meriah
lagi ditambah lagi dengan beraneka macam panganan yang masing-masing memiliki
symbol tertentu.
Calon ibu yang telah berganti pakaian adat Bone berwarna merah ditidurkan
di tempat pelaminan. Sang dukun akan mengelus perut calon ibu tersebut dan
membacakan doa. Selanjutnya daun sirih yang ditaburi beras diletakkan di kaki,
perut, kening kepala calon ibu dimaksudkan agar pikiran ibu tetap tenang, tidak
stress. Diletakkan di bagian kaki sebagai harapan agar anak melangkahkan
kakinya yang benar. Sementara beras sebagai perlambang agar anak tak kekurangan
pangan.
Seekor ayam jago sengaja diletakkan di bawah kaki calon ibu. Bila ternyata
ayam tersebut malas mematuk beras, menurut mereka ini pertanda anak yang akan
lahir perempuan.
Tahap akhir upacara tujuh bulan Bugis Bone ini adalah suap-suapan yang dilakukan oleh dukun, pasangan tersebut (sebagai calon bapak dan ibu) dan orang tua keduanya.
Tahap akhir upacara tujuh bulan Bugis Bone ini adalah suap-suapan yang dilakukan oleh dukun, pasangan tersebut (sebagai calon bapak dan ibu) dan orang tua keduanya.
Acara ditutup dengan rebutan hiasan anyaman berbentuk ikan dan berisi telur
bagi ibu-ibu yang memiliki anak gadis atau yang sudah menikah. Ini sebagai
perlambang agar anak-anaknya segera mendapat jodoh yang baik, dan nantinya
melahirkan dengan mudah.
(Sumber : http://sejarahbone.blogspot.com)
TRADISI MENDIRIKAN
RUMAH
Dalam budaya masyarakat Bugis ketika sebuah keluarga akan membangun rumah
atau pindah ke rumah baru terdapat serangkaian upacara adat yang harus
dijalankan, mulai saat persiapan bahan-bahan untuk membangun rumah, ketika
rumah akan dibangun/didirikan, lalu ketika rumah tersebut siap untuk
ditinggali, bahkan saat rumah tersebut sudah dihuni. Rangkaian upacara adat
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tahap Upacara Makkarawa
Bola.
Makkarawa Bola terdiri dari dua kata
yaitu Makkarawa (memegang) dan Bola (rumah), jadi makkarawa
bola bisa diartikan memegang, mengerjakan, atau membuat peralatan rumah
yang telah direncanakan untuk didirikan dengan maksud untuk memohon restu
kepada Tuhan agar diberikan perlindungan dan keselamatan dalam penyelesaian
rumah yang akan dibangun tersebut. Tempat dan waktu upacara ini diadakan di
tempat dimana bahan–bahan itu dikerjakan oleh Panre (tukang) karena
bahan–bahan itu juga turut dimintakan doa restu kepada Tuhan.
Waktu penyelenggaraan upacara ini ialah pada waktu yang baik dengan
petunjuk panrita bola, yang sekaligus bertindak sebagai pemimpin
upacara.
Bahan–bahan upacara yang harus dipersiapkan terdiri atas : ayam dua ekor, dimana ayam ini harus dipotong karena darahnya diperlukan untuk pelaksanaan upacara kemudian tempurung kelapa daun waru sekurang – kurangnya tiga lembar. Tahap pelaksanaan upacara makkarawa bola ini ada tiga, yaitu :
Bahan–bahan upacara yang harus dipersiapkan terdiri atas : ayam dua ekor, dimana ayam ini harus dipotong karena darahnya diperlukan untuk pelaksanaan upacara kemudian tempurung kelapa daun waru sekurang – kurangnya tiga lembar. Tahap pelaksanaan upacara makkarawa bola ini ada tiga, yaitu :
1. waktu memulai melicinkan tiang dan peralatannya disebut makkattang,
2. waktu mengukur dan melobangi tiang dan peralatannya yang disebut mappa,
3. waktu memasang kerangka disebut mappatama areteng.
Setelah para penyelenggara dan peserta upacara hadir, maka ayam yang telah
disediakan itu dipotong lalu darahnya disimpan dalam tempurung kelapa yang
dilapisi dengan daun waru, sesudah itu darah ayam itu disapukan pada bahan yang
akan dikerjakan. Dimulai pada tiang pusat, disertai dengan niat agar selama
rumah itu dikerjakan tuan rumah dan tukangnya dalam keadaan sehat dan
baik–baik, bila saat bekerja akan terjadi bahaya atau kesusahan, maka cukuplah
ayam itu sebagai gantinya. Selama pembuatan peralatan rumah itu berlangsung
dihidangkan kue–kue tradisional seperti : Suwella, Sanggara, Onde-Onde,
Roko–roko unti sering juga disebut doko-doko, Peca’ Beppa, Barongko
dan Beppa loka, dan lain – lainnya.
2.Tahap Upacara Mappatettong Bola (Mendirikan Rumah).
Tujuan upacara ini sebagai permohonan doa restu kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa agar rumah yang didirikan itu diberkahi dan dilindungi dari
pengaruh-pengaruh roh jahat yang mungkin akan menganggu penghuninya. Upacara
ini diadakan di tempat atau lokasi dimana rumah itu didirikan, sebagai bentuk
penyampaian kepada roh-roh halus penjaga – penjaga tempat itu bahwa orang yang
pernah memohon izin pada waktu yang lalu sekarang sudah datang dan mendirikan
rumahnya. Sehari menjelang dirikan pembangunan rumah baru itu, maka pada malam
harinya dilakukan pembacaan kitab barzanji.
Adapun bahan–bahan dan alat–alat kelengkapan upacara itu terdiri tas : ayam’bakka’
dua ekor, satu jantan dan satu betina. Darah kedua ayam ini diambil untuk
disapukan dan disimpan pada tiang pusat rumah, ini mengandung harapan agar tuan
rumah berkembang terus baik harta maupun keturunannya. Selain itu, Bahan–bahan
yang ditanam pada tempat posi bola (pusat atau bagian tengah rumah) dan
aliri pakka yang akan didirikan ini terdiri atas : awali (periuk
tanah atau tembikar), sung appe (sudut tikar dari daun lontar), balu
mabbulu (bakul yang baru selesai dianyam), penno-penno (semacam
tumbuh-tumbuhan berumbi seperti bawang), kaluku (kelapa), Golla Cella
(gula merah), Aju cenning (kayu manis), dan buah pala. Kesemua bahan
tersebut diatas dikumpul bersama – sama dalam kuali lalu ditanam di tempat
dimana direncanakan akan didirikan aliri posi bola itu dengan harapan
agar pemilik rumah bisa hidup bahagia, aman, tenteram, dan serba cukup.
Setelah tiang berdiri seluruhnya, maka disediakan pula sejumlah bahan –
bahan yang akan disimpan di posi bola seperti kain kaci (kain
putih) 1 m, diikatkan pada posi bola, padi dua ikat, golla cella
(gula merah), kaluku (kelapa), saji pattapi (nyiru), sanru
(sendok sayur), piso (pisau), pakkerri (kukur kelapa).
Bahan–bahan ini disimpan diatas disimpan dalam sebuah balai – balai di dekat posi
bola. Bahan ini semua mengandung nilai harapan agar kehidupan dalam rumah
itu serba lengkap dan serba cukup. Setelah kesemuanya itu sudah dilaksanakan,
barulah tiba saat Mappanre Aliri, memberi makan orang – orang yang
bekerja mendirikan tiang – tiang rumah itu. Makanan yang disajikan terdiri atas
sokko (ketan), dan pallise, yang mengandung harapan agar hidup
dalam rumah baru tersebut dapat senantiasa dalam keadaan cukup.
3. Tahap Upacara Menre Bola Baru (Naik Rumah Baru)
Tujuannya sebagai pemberitahuan tuan rumah kepada sanak keluarga dan
tetangga sedesa bahwa rumahnya telah selesai dibangun, selain sebagai upacara
doa selamat agar rumah baru itu diberi berkah oleh Tuhan dan dilindungi dari
segala macam bencana. Perlengkapan upacara yang disiapkan adalah dua ekor ayam
putih jantan dan betina, loka (utti) manurung, loka / otti
(pisang) panasa (nangka), kaluku (kelapa), golla cella
(gula merah), tebbu (tebu), panreng (nenas) yang sudah tua.
Sebelum tuan rumah (suami isteri) naik ke rumah secara resmi, maka terlebih
dahulu bahan bahan tersebut diatas disimpan di tempatnya masing – masing, yaitu
:
(1) Loka manurung, kaluku, golla cella, tebu, panreng dan panasa
di tiang posi bola.
(2) Loka manurung disimpan di masing–masing tiang sudut rumah.
Tuan rumah masing–masing membawa seekor ayam putih. Suami membawa ayam betina dan isteri membawa ayam jantan dengan dibimbing oleh seorang sanro bola atau orang tertua dari keluarga yang ahli tentang adat berkaitan dengan rumah. Sesampainya diatas rumah kedua ekor ayam itu dilepaskan, sebelum sampai setahun umur rumah itu, maka ayam tersebut belum boleh disembelih, karena dianggap sebagai penjaga rumah. Setelah peserta upacara hadir diatas rumah maka disuguhkanlah makanan–makanan / kue–kue seperti suwella, jompo–jompo, curu maddingki, lana–lana (bedda), konde–konde (umba–umba), sara semmu, doko–doko, lame–lame. Pada malam harinya diadakanlah pembacaan Kitab Barzanji oleh Imam Kampung, setelah tamu pada malam itu pulang semua, tuan rumah tidur di ruang depan. Besok malamnya barulah boleh pindah ke ruang tengah tempat yang memang disediakan untuknya.
Tuan rumah masing–masing membawa seekor ayam putih. Suami membawa ayam betina dan isteri membawa ayam jantan dengan dibimbing oleh seorang sanro bola atau orang tertua dari keluarga yang ahli tentang adat berkaitan dengan rumah. Sesampainya diatas rumah kedua ekor ayam itu dilepaskan, sebelum sampai setahun umur rumah itu, maka ayam tersebut belum boleh disembelih, karena dianggap sebagai penjaga rumah. Setelah peserta upacara hadir diatas rumah maka disuguhkanlah makanan–makanan / kue–kue seperti suwella, jompo–jompo, curu maddingki, lana–lana (bedda), konde–konde (umba–umba), sara semmu, doko–doko, lame–lame. Pada malam harinya diadakanlah pembacaan Kitab Barzanji oleh Imam Kampung, setelah tamu pada malam itu pulang semua, tuan rumah tidur di ruang depan. Besok malamnya barulah boleh pindah ke ruang tengah tempat yang memang disediakan untuknya.
4. Tahap Upacara Maccera Bola
Setelah rumah itu berumur satu tahun maka diadakanlah lagi upacara yang
disebut maccera bola. “Maccera Bola” artinya memberi darah kepada
rumah itu dan merayakannya. Jadi sama dengan ulang tahun. Darah yang dipakai
maccera ialah darah ayam yang sengaja dipotong untuk itu, pada waktu menyapukan
darah pada tiang rumah dibacakan mantra, “Iyyapa uitta dara narekko dara manu”,
artinya nantinya melihat darah bila itu darah ayam. Ini maksudnya agar rumah
terhindar dari bahaya. Pelaku maccera bola ialah sanro (dukun) bola
atau tukang rumah itu sendiri.
(Sumber : http://sejarahbone.blogspot.com)
UPACARA KEMATIAN ADAT
BUGIS
Dari sekian banyak
upacara adat yang dilaksanakan di kampung-kampung Bugis terdapat satu upacara
adat yang disebut Ammateang atau Upacara Adat Kematian yang dalam adat
Bugis merupakan upacara yang dilaksanakan masyarakat Bugis saat seseorang dalam
suatu kampung meninggal dunia.
Keluarga, kerabat dekat
maupun kerabat jauh, juga masyarakat sekitar lingkungan rumah orang yang meninggal
itu berbondong-bondong menjenguknya. Pelayat yang hadir biasanya membawa sidekka
(sumbangan kepada keluarga yang ditinggalkan) berupa barang atau kebutuhan
untuk mengurus mayat, selain itu ada juga yang membawa passolo (amplop
berisi uang sebagai tanda turut berduka cita). Mayat belum mulai diurus seperti
dimandikan dan seterusnya sebelum semua anggota terdekatnya hadir. Barulah
setelah semua keluarga terdekatnya hadir, mayat mulai dimandikan, yang umumnya
dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memang biasa memandikan mayat atau
oleh anggota keluarganya sendiri.
Ada beberapa hal yang
perlu dilakukan ketika memandikan mayat, yaitu :
mabbolo (menyiramkan air ke
tubuh mayat diiringi pembacaan do’a dan tahlil),
maggoso’ (menggosok
bagian-bagian tubuh mayat),
mangojo (membersihkan anus dan
kemaluan mayat yang biasa dilakukan oleh salah seorang anggota keluarga seperti
anak,adik atau oleh orang tuanya).
mappajjenne’ (menyiramkan air mandi
terakhir sekaligus mewudhukan mayat).
Orang -orang yang
bertugas tersebut diberikan pappasidekka (sedekah) berupa pakaian si
mayat ketika hidupnya lengkap dengan sarung, baju, celana, dan lain sebagainya.
Mayat yang telah selesai dimandikan kemudian dikafani dengan kain kaci (kain
kafan) oleh keluarga terdekatnya. Setelah itu imam dan beberapa pengikutnya
menyembahyangkan mayat menurut aturan Islam. Sementara diluar rumah, anggota
keluarganya membuat ulereng (usungan mayat) untuk golongan tau samara
(orang kebanyakan) atau Walasuji (untuk golongan bangsawan) yang
terbentuk 3 susun. Bersamaan dengan pembuatan ulereng, dibuat pula cekko-cekko,
yaitu semacam tudungan yang berbentuk lengkungan panjang sepanjang liang lahat
yang akan diletakan diatas timbunan liang lahat apabila jenazahnya telah
dikuburkan. Dan apabila, semua tata cara keislaman telah selesai dilakukan dari
mulai memandikan, mengafani, dan menyembahyangkan mayat, maka jenazahpun
diusung oleh beberapa orang keluar rumah lalu diletakan diatas ulereng.
Tata cara membawa usungan
atau ulureng ini terbilang unik. Ulereng diangkat keatas kemudian
diturunkan lagi sambil melangkah ke depan, ini diulangi hingga 3 kali
berturut-turut, barulah kemudian dilanjutkan dengan perlahan menuju ke
pekuburan diikuti rombongan pengantar dan pelayat mayat. Iring-iringan
pengantar jenazah bisa berganti-gantian mengusung ulereng. Semua
orang-orang yang berpapasan dengan iringan pengantar jenazah harus berhenti,
sedangkan orang-orang yang berjalan/berkendara dari belakang tidak boleh
mendahului rombongan pengantar jenazah hingga sampai di areal pekuburan. Di
pekuburan, sudah menanti beberapa orang yang akan bekerja membantu penguburan
jenazah. Sesampai di kuburan, mayat segera diturunkan kedalam liang lahat. Imam
atau tokoh masyarakat kemudian meletakkan segenggam tanah yang telah dibacakan
doa atau mantera-mantera ke wajah jenazah sebagai tanda siame’ (penyatuan)
antara tanah dengan mayat.setelah itu, mayat mulai ditimbuni tanah sampai
selesai.
Lalu Imam membacakan
talqin dan tahlil dengan maksud agar si mayat dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan malaikat penjaga kubur dengan lancar. Diatas pusara
diletakan buah kelapa yang telah dibelah 2 dan tetap ditinggalkan diatas
kuburan itu. Diletakan pula payung dan cekko-cekko’.
Hal ini juga masih
merupakan warisan kepercayaan lama orang Bugis Makassar, bahwa meskipun
seseorang telah meninggal dunia, akan tetapi arwahnya masih tetap berkeliaran.
Karena itu, kelapa dan airnya yang diletakan diatas kuburan dimaksudkan sebagai
minuman bagi arwah orang yang telah meninggal, sedangkan payung selain untuk
melindungi rohnya, juga merupakan simbol keturunan.
Sekarang ini, ada
kebiasaan baru setelah jenazah dikuburkan, yaitu imam atau ustadz dipesankan
oleh keluarga orang yang sudah meninggal itu agar melanjutkan dengan ceramah
dikuburan sebelum rombongan/pelayat pulang dari kuburan. Ceramah atau
pesan-pesan agama yang umumnya disampaikan sekaitan dengan kematian dan
persiapan menghadapi kematian, bahwa kematian itu pasti akan menemui/dihadapi
setiap orang didunia ini dan karenanya, supaya mendapatkan keselamatan dari
siksa alam kubur serta mendapatkan kebahagian didunia maupun di akherat, maka
seseorang harus mengisi hari-hari kehidupannya dengan berbuat baik dan amal
kebajikan sebanyak mungkin. Sebelum rombongan pengiring mayat pulang,biasanya
pihak keluarga terdekat menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus penyampaian
undangan takziah.
Semalaman, di rumah
duka diadakan tahlilan dan khatam Al-Quran, yaitu membaca al-Quran secara
bergantian. Dari sini mulainya bilampenni, yaitu upacara selamatan sekaligus
penghitungan hari kematian yang dihitung mulai dari hari penguburan
jenazah.Biasa dalakukan selamatan tujuh hari atau empat puluh harinya. Sekarang
ini, upacara bilampenni sudah bergeser namanya menjadi tiga malam saja. Sebagai
penutup, pada esok harinya dilakukan dzikir barzanji dan dilanjutkan santap
siang bersama kerabat-kerabat yang di undang.
(Sumber : http://sejarahbone.blogspot.com)
(Sumber : http://sejarahbone.blogspot.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar